Minggu, 08 Desember 2013


Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Juarai Kompetisi Essay Nasional

Rabu, 4 Desember 2013 10:27:04 WIB
Dilihat : 1650 kali
Imam Sopyan, mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, berhasil menjadi juara pertama pada kompetisi essay nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Imam Sopyan berhasil menyisihkan lima puluh peserta lainnya dari berbagai universitas di Indonesia. Kompetisi ini diselenggarakan dalam dua tahap seleksi, yaitu seleksi naskah essay dan seleksi presentasi. Dalam seleksi naskah essay, Imam berhasil lolos ke dalam lima besar, bersama empat mahasiswa lainnya, yaitu Denny Iswanto (UIN Syarif Hidayatullah), Riki Purnomo (Universitas Muhammadiyyah Surakarta), Nur Rizqy Febriandika (Universitas Muhammadiyyah Surakarta), dan Erin Nuzulia Istiqomah (Universitas Indonesia). Kelima finalis tersebut diundang untuk mempresentasikan essaynya mereka di depan dua dewan juri yang berkompeten di bidangnya. Presentasi tersebut diselenggarakan di Ruang Sidang I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) pada 2 November 2013.
Berdasarkan hasil penilaian dari dua dewan juri, presentasi Imam Sopyan dengan judul essay “Bergerak dari Kampus Menuju Bangsa Paripurna: Inteligensia Profetik dan Tanggung Jawab Sosio-Transedental Mahasiswa Islam” berhasil mengungguli finalis lainnya. Imam Sopyan mendapatkan total poin 400 dari Juri I dan 380 dari Juri II (780 poin). Ia unggul 10 poin dari Juara II, Denny Iswanto, yang mengumpulkan poin 770. Juara II ditempati oleh Erin Nuzulia Istiqomah dengan total poin 760.
Dalam essaynya, Imam Sopyan menggagas urgensi berbagai organisasi mahasiswa, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyyah), dan yang lainnya untuk menjadi ‘pabrik’ para pemimpin umat dan bangsa. Dengan menelusuri jejak sejarah perjuangan kemerdekaaan bangsa Indonesia, mulai dari Jong Islamieten Bond (JIB) dan Studentent Islami Studie Club (SIS) pada awal abad 20. Imam Sopyan optimis bahwa hanya mahasiswa yang merapatkan diri dalam barisan organisasi mahasiswalah yang kelak mampu menjadi agen perubahan (agent of change) dalam konteks keumatan dan kebangsaan. Atas prestasinya ini, Imam Sopyan berhak atas Piala Tetap Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan uang pembinaan sebesar 1 juta rupiah. 







 

Selasa, 26 November 2013

Dialog Kebangsaan Bersama Jusuf Kalla di UIN Sunan Kalijaga

Jumat, 22 November 2013 08:53 WIB

H.M. Jusuf Kalla mengatakan, seorang pemimpin harus memiliki karakter yang kompleks untuk memimpin suatu negara. Sebab kemajuan suatu bangsa atau negara ditentukan dari pemimpinnya. Pemimpin tak hanya cukup jujur, tetapi juga harus mampu memberi tauladan, tegas dan menguasai masalah. Bila pemimpinnya tak menguasai masalah, maka kita akan menjadi permainan bangsa-bangsa lain. Pempimpin juga harus mampu membawa orang yang dipimpin ke tujuan lembaga atau bangsa. Yakni mencapai masyarakat yang adil, makmur danm sejahtera.
Hal tersebut disampaikan Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dalam “Dialog Kebangsaan Dalam Pentas Budaya Nasional – Kepemimpinan Nasional Dan Keadaban Politik” di Convention Hall Kampus UIN Sunan Kalijaga, Rabu, 20 November 2013.
Indonesia kata Jusuf Kalla, kini sedang dipandang remeh oleh negara lain. Salah satu contohnya adalah adanya kasus penyadapan yang dilakukan Australia kepada pejabat negara. Menurut Jusuf Kalla, hal tersebut bisa terjadi disebabkan Australia merasa lebih tinggi dari Indonesia, dalam hal ekonomi, teknologi, dan juga sumber daya manusianya.
Mereka (Australia) merasa lebih pintar dari kita, merasa lebih maju dan mau menyombongkan diri, kata ketua umum PMI Indonesia. Padahal kata Jusuf Kalla, Indonesia adalah negara yang besar. kekayaan sumber daya alam Indonesia lebih besar dari Australia. Sumber daya manusianya memiliki keberagaman. Semua itu sebenarnya menjadi modal pokok bangsa ini yang tidak dimiliki bangsa lain di Asia. Menurut Jusuf Kalla, kesalahan negri ini, dikarenakan ketidakmampuan mendorong yang terbaik untuk maju, termasuk menciptakan kebijakan yang terbaik. Modal pokok yang seharusnya menjadi kekuatan negri ini, justru menjadi kelemahan bangsa. Jadi tidak heran, konflik sesama anak bangsa masih sering terjadi, jelas Jusuf Kalla.
Di Era Soekarno, Indonesia menjadi negara baru merdeka yang ditakuti. Ini disebabkan kepimpinan Soekarno yang dikenal dunia sebagai seorang orator yang andal dan disegani. Bila di era itu Soekarno tidak pandai berorasi, masyarakat Indonesia tidak akan mendengar kepemimpinannya. Negara-negara lain juga tidak akan menghormati Indonesia. Oleh karenanya, saat ini dan ke depan, Indonesia membutuhkan karakter pemimpin yang mampu memahami permasalahan dan kebutuhan Indonesia era kini dan ke depan, yang bisa memotivasi seluruh masyarakat Indoneia untuk maju dan tentu yang bisa menjadikan Indonesia disegani bangsa-bangsa lain.
Menanggapi Pemilu 2014 esuk, Jusuf Kalla mengatakan, akan seperti menonton bola yang lawannya seimbang. Jadi akan seru. Seperti menonton Barcelona lawan Manchester United atau Persija lawan PSIS. Pemilu 2014 akan berlangsung seru. Karena kekuatan Parpol dan tokoh-tokoh politik yang cenderung berimbang. Tidak ada yang benar-benar menonjol. Tetapi pihaknya memprediksi dan berharap, bukan Partai Demokrat yang akan menang. Supaya memberi kesempatan kepada calon-calon pemimpin bangsa dari partai-partai lain untuk membuktikan bisa mempimpin bangsa ini menjadi lebih baik, tegas Jusuf klla.
Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy’ari menyampaikan, dinamika politik menjelang Pemilu 2014 harus dikawal sejak dini. Agar tidak terjerumus ke dalam politik kekerasan, melainkan politik yang mensejahterakan. Dinamika politik harus diarahkan agar memiliki daya responsif terhadap permasalahan bangsa. Musa Asy’arie memandang perlunya dialog- dialog kebangsaan di forum akademik seperti ini, menuju dinamika politik berperadaban, tanpa manipulasi, tidak menghasilkan dinasti kepemimpinan, apalagi menjual popularitas tanpa bobot. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).